بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Selamat Datang Saudaraku!

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan
orang yang menyeru kepada kebaikan,
menyuruh (berbuat) yang makruf,
dan mencegah dari yang mungkar.
Dan mereka itulah orang-orang
yang beruntung (Ali Imran :104)


Monday, May 29, 2017

// // Tulis Komentar

Keajaiban


Sekarang banyak ustadz yang mempopulerkan beberapa amal shaleh sesuai syari'at dengan tagline "Keajaiban Sedekah",   "Keajaiban Tahajud", "Keajaiban Sholat Berjama'ah", "Keajaiban Menghafal Qur'an" dan sebagainya.

Dan memang terbukti, orang yang rajin sedekah, hartanya justru makin bertambah.  Orang yang malam banyak begadang untuk tahajud (bukan karena mau nonton bola), justru badannya makin sehat.  Orang yang banyak sholat berjama'ah, justru waktunya berkah, berbagai acara justru secara ajaib bisa sinergi dan terselesaikan dalam waktu yang jauh lebih efisien dari sebelumnya.  Dan orang yang berusaha banyak menghafal Qur'an, justru otaknya lebih produktif, lebih mudah mencerna atau lebih cepat menghafal ilmu-ilmu yang lain.  Dan sepertinya ini hukum alam, karena selalu terjadi.

Namun bagaimanapun juga, amal-amal shaleh di atas tergolong kategori sunnah.  Padahal, jenis amal shaleh sesuai syariat itu, bahkan yang hukumnya wajib, masih sangat banyak.  Maka, kita rindu ada ustadz yang mempopulerkan amal shaleh yang sepertinya belum cukup populer, semisal:

"Keajaiban Menepati Janji",
"Keajaiban Berlaku Adil",
"Keajaiban Menuntut Ilmu",
"Keajaiban Menutup Aurat",
"Keajaiban Menjauhi Rizki yang Haram"
"Keajaiban Membela yang Terdzalimi",
"Keajaiban Memperjuangkan Syari'ah" ...
dan sebagainya.

Bagaimana kalau seorang muslim itu terbiasa menepati janji?  Apalagi para pejabat atau politisi, di mana saat pemilihan mereka biasa mengumbar janji.  Apakah mereka nanti lebih suka dijuluki PHP alias Pengumbar Harapan Palsu?  Dan silakan dibuktikan, bahwa Allah tidak akan mensia-siakan amal shaleh sedikitpun: setiap orang yang terbiasa menepati janji pasti Allah juga akan menepati janji-Nya kepadanya.  Doanya akan selalu terkabul, hajatnya akan selalu dipenuhi, istri dan anak-anaknya akan senantiasa menjadi cahaya mata baginya, dan rumahnya walaupun sederhana akan berasa surga.  Keajaiban akan mendekati dari segala penjuru !

Demikian juga dengan menjauhi rizki yang haram, entah yang bersumber dari riba, dari profesi yang tidak halal, atau yang didapat dengan korupsi.  Maka Allah akan mengganti rizki haram yang dijauhinya, dengan rizki yang lebih baik, yang halal, berkah dan berlimpah.  Allah cinta pada hamba yang tidak silau dengan gebyar harta bermilyar-milyar, kalau itu adalah sesuatu yang tidak diridhoi-Nya.  Hamba Allah itu sadar bahwa rizki itu semua adalah sekedar ujian, sehingga dia akan memilih yang halal saja, karena dia yakin, yang halal itu akan selamat untuk dirinya, keluarganya, tidak cuma di dunia tetapi sampai ke surga.  Baginya, cinta atau ridha Allah adalah di atas segala-galanya.

Apalagi memperjuangkan syari'ah.  Ini adalah puncak aktivitas yang mengundang keajaiban.  Memperjuangkan syari'ah adalah aktivitas dakwah yang diwariskan para Nabi.  Para wali yang datang ke Nusantara pun, hidupnya dipenuhi oleh keajaiban.  Maunah pada mereka mampu mengatasi sihir-sihir dari orang sakti negeri ini yang pernah menghalangi mereka. Allah mendatangkan keajaiban itu sejak mereka mencari bekal.  Semesta mendo'akan orang yang pergi mencari ilmu untuk bekal berdakwah.  Ikan-ikan di laut, burung-burung yang terbang di udara, dan para malaikat senantiasi mendoakan para pengemban dakwah.  Rizkinya secara ajaib bergulir bersama dakwah.  Gangguan orang-orang yang dengki, secara ajaib teratasi selaras dengan semakin teguhnya seorang pengemban dakwah pada keyakinan bahwa, "Allah yang memerintahkan dakwah ini, pasti tidak akan meninggalkan kita dalam kesulitan".  Itu juga rahasia kemenangan pasukan jihad kaum muslimin  di mana-mana.  Mereka menang bukan karena kesaktiannya, jumlahnya yang besar, atau persenjataannya yang lengkap.  Mereka dimenangkan Allah karena ketaqwaannya, sehingga Allah menggerakkan alam semesta menolong pasukan kaum muslimin, menanamkan ketakutan di hati musuh-musuhnya, membuyarkan kekompakan mereka, hingga akal sehatnya mengakui bahwa kaum muslimin tidak berperang untuk hawa nafsu mereka, melainkan justru untuk membebaskan musuhnya dari kegelapan kepada cahaya.

Demikianlah.  Mari kita cari berbagai keajaiban dalam segala pengamalan syari'at.  Semoga dengan demikian, cita-cita Islam Rahmatan Lil'alamin lebih cepat terwujud dalam rentang usia kita.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. 7:96)

Oleh: Fahmi Amhar
Selengkapnya
// // Tulis Komentar

Memilih Sahabat


Kultum Hari ke-4

"Mana yang lebih anda sukai, saudara atau sahabat anda?".

Sebagian pasti ada yang menjawab saudaranya lebih disukai. Sebagian lagi menjawab, "Kadang-kadang dengan sahabat, kita lebih bisa curhat”.
 ‎
Jawaban yang kedua yang ingin saya bahas dalam Kultum kali ini.‎

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, sahabat bisa berarti teman, sedangkan sahabat akrab adalah orang yang begitu dekat kepada kita sampai pada tingkat boleh mengetahui rahasia pribadi.

Ada beberapa tingkatan sahabat.

Tingkatan pertama adalah SHOHIB yang dalam bahasa Indonesia menjadi “sahabat”.  Shohib tidak harus selalu seide dengan kita.

Tingkat yang lebih tinggi adalah SHODIQ, yang berasal dari kata “shidq”, yang artinya “benar” atau “jujur”. Sahabat yang baik adalah mereka yang berkata jujur dan sikapnya akan selalu benar pada kita.

Ada tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu KHOLIL, yang berasal dari akar kata bermakna “celah”. Maksudnya adalah sahabat yang begitu dekat dengan kita.

Pertemanannya, persahabatannya, dan kasih sayangnya, masuk ke celah-celah kalbu. Dengan kata lain perasaan diantara keduanya sudah sehati, ketika salah satunya sakit, yang lain akan ikut merasakan sakit.

Kholil ibarat melihat diri kita saat bercermin. Contoh Kholil dalam sejarah Islam dapat dijumpai pada dua sahabat Rasul: Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin Khatthab.
 ‎
Suatu hari ada orang berkata, “Saya tidak tahu siapa khalifah, siapa kepala negara, apakah engkau wahai Abu Bakar atau Umar?”.

Abu Bakar menjawab, “Saya, tetapi dia”.

Selain Shodiq, Shohib, dan Kholil, ada lagi BITHONAH, yaitu ‎teman terdekat atau orang kepercayaan yang kita beritahu rahasia kita. Bithonah bersinonim dengan kata "Waliy", yaitu orang yang mendekat.

Allah SWT berfirman, "orang yang beriman itu waliy-nya adalah Allah, Rasul, dan orang-orang beriman."

Al-Qur`an mengajarkan kita untuk mencari sahabat yang terus menerus bersama kita dan memberi manfaat sampai di hari kemudian. Di dalam surat Az-Zukhruf/43 ayat 67, Allah SWT berfirman:

‎ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ
‏‎‏
‎Menurut ayat ini, semua sahabat pada hari kemudian akan bermusuhan kecuali sahabat yang dijalin berdasarkan ketakwaan kepada Allah.

Ada beberapa kriteria orang yang layak dijadikan sahabat.

Pertama, lihat terlebih dahulu apakah dia baik kepada keluarga dan orang tuanya. Jika ia durhaka jangan jadikan ia sahabat.‎

Kedua, lihat bagaimana sikapnya terhadap materi.

Ketiga, lihat bagaimana aktivitasnya sehari-hari.‎

Keempat, lihat bagaimana reaksinya jika anda salah. Apakah ia menasehati anda? Jika tidak, ia tak bisa menjadi sahabat.

Kelima, lihat keakrabannya dengan anda. Persahabatan itu harus seimbang, tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi atau lebih baik.‎

Bagian akhir pada ayat terakhir dari surat Al 'Ashr adalah:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Saya menjabarkannya: "Mereka saling mendorong, saling melarang, saling mengingatkan, saling menasehati, saling menyarankan satu sama lain, dan setara dalam saling menasehati itu".‎

Kata Tawaashaa berarti setara dalam menasehati. Berbeda dengan kata Shaawuu, yang berarti salah satunya mendominasi yang lain.

Kata Tawaashaa berarti berdiri sejajar. "Aku tak lebih baik darimu dan kamu pun tak lebih baik dariku, dan kita saling menasehati".‎

Teman yang baik adalah ia yang menegur kita:

✅ "Bro, kemarin aku ga lihat kamu sholat Isya dan Tarawih di masjid. Kamu kemana? Kamu gak apa-apa kan?".

✅ "Aku ga lihat kamu beberapa hari ini, kamu kemana? Aku mengkhawatirkanmu".

Itulah Tawaashaw bil-haqq, saling mengingatkan tujuan kita di dunia ini. Bagaimana seharusnya kita dapat hidup dengan baik tanpa melupakan tujuan hidup di dunia.‎

Semoga kita semua mendapat teman yang baik. Semoga Allah SWT membantu kita melawan godaan yang datang dan menjadikan kita manusia yang lebih baik. Dan semoga pada akhirnya, kita juga bisa membuat orang lain menjadi dekat dengan Allah karena kita.

Itulah yang semestinya dilakukan, menjadi orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, bukan dengan cara menambah musuh.
_____
::
#Azharul Fuad Mahfudh   ‎
Selengkapnya
// // Tulis Komentar

Ramadhan Melatih Kesabaran


Kultum Hari ke-3

Di dalam al-Qur`an banyak sekali ayat yang memerintahkan kita tentang kesabaran dan juga tentang keutamaan-keutamaan yang didapatkan oleh orang-orang yang sabar, diantaranya Allah menyelaraskan kata sabar dan shalat secara bergandengan dalam salah satu ayat:

“Hai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. al-Baqarah/2:153).

Bermacam tafsir atas penggandengan dua kata diatas, diantaranya yaitu kedua hal tersebut adalah wajib dilaksanakan oleh setiap muslim jika ia ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW selama beliau menyebarkan ajaran Islam ini. Bermacam-macam cobaan yang diterimanya, cacian, makian, bahkan perlakuan kasar dalam bentuk fisik dan beberapa kali nyaris membahayakan nyawa beliau, tetapi cobaan tersebut tak pernah menyurutkan perjuangannya dan tentunya berkat kesabaran beliau.

Seandainya saja beliau tidak sabar, ngambek, dan tidak meneruskan ajaran ini, maka kita tidak tahu apa jadinya dengan akidah kita sekarang.

Sabar bukan sekedar pasif menerima nasib apa adanya. Sikap sabar mengandung kekuatan besar dan tekad yang kuat untuk memperbaiki diri dalam mencari kehidupan yang lebih baik. Karena itulah, sikap sabar adalah bagaimana terus bekerja dan berusaha secara aktif.

Dalam bekerja dan berusaha mencari rezeki, sikap sabar sangat diperlukan. Sabar adalah menempatkan sesuatu seusai dengan proses dan prosedurnya. Ketidaksabaran hanya akan membuat keinginan yang tergesa-gesa untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar di luar kemampuan dan kewajaran.

Sikap ketidaksabaran inilah awal munculnya perjudian dan berbagai kejahatan. Orang ingin segera menjadi kaya, segera mendapatkan uang banyak tanpa melalui proses dan kerja keras. Inginnya segera mendapatkan sesuatu melalui jalan pintas.

Korupsi juga timbul karena ketidaksabaran. Sumbernya satu hal; hawa nafsu dan keinginan untuk segera memiliki harta dalam jumlah besar. Karena selalu merasa tidak cukup, akhirnya timbullah niat bagaimana mendapatkan harta secara cepat.

Tidak ada satupun pekerjaan di dunia ini yang bisa menghasilkan sesuatu tanpa ada kesabaran.

✅ Seorang petani harus menunggu 3-4 bulan sawahnya untuk bisa dipanen. Tanpa kesabaran, petani tidak mungkin bisa menghasilkan beras yang baik dan berisi.

✅ Seorang nelayan harus sabar menunggu ombak yang bersahabat untuk bisa melaut. Lebih-lebih pemancing ikan, ia mesti menunggu berjam-jam dalam sehari agar pancingannya bisa termakan oleh ikan.

✅ Seorang pedagang juga mesti menunggu dengan sabar para pembeli yang lewat di depan barang dagangannya. Ada di antara mereka yang cuma melihat-lihat atau sekedar bertanya, semuanya mesti dilakukan dengan penuh kesabaran. Sedikit saja tidak sabar, pembeli akan segera mengalihkan ke toko yang lain.

✅ Seorang seniman yang akan membuat karya seni, juga membutuhkan kesabaran.

✅ Seorang pelukis bisa membutuhkan berhari-hari, bahkan mungkin ada yang berminggu-minggu untuk menghasilkan satu lukisan.

✅ Pengarang lagu membutuhkan kesabaran agar bisa menggubah satu lagu yang enak didengar.

Begitu seterusnya kerja-kerja seni membutuhkan kesabaran agar bisa menghasilkan karya-karya yang bernilai.

Para guru di sekolah, tanpa kesabaran, pasti pekerjaan guru akan menjadi pekerjaan yang memusingkan dan membosankan. Setiap hari melihat tingkah laku anak dengan berbagai perangainya yang berbeda, terkadang patuh dengan apa yang diperintahkan, dan terkadang pula mereka dengan kreativitas masing-masing tidak mau mengerjakan. Tanpa kesabaran, pendidikan tidak akan bisa berjalan dengan baik.

Orang tua yang mendidik anaknya di rumah, juga membutuhkan sikap sabar. Apalagi, anak-anak zaman sekarang adalah anak-anak yang dibesarkan dengan pengetahuan dan informasi yang sangat banyak dan beragam. Karenanya, nilai-nilai yang mereka dapatkan terkadang di luar imajinasi dan pemikiran orang tua. Tanpa adanya kesabaran mendidik anak-anak, orang tua akan cenderung emosional setiap kali melihat “kreativitas” yang sering disebut dengan “kenakalan” mereka yang luar biasa aktif.

Tidak terkecuali seorang pegawai, ia harus sabar dalam pekerjaannya. Terkadang banyak masalah di kantor, mulai dari disiplin yang ketat, tunjangan yang rendah, gaji yang dirasa tidak memadai, atasan yang tidak mendukung, rekan kerja yang seringnya bikin sewot, semua itu adalah ujian seberapa besar sikap sabar yang bisa ditunjukkan.

Kesabaran akan membawa kita mencari jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan yang ada. Kesabaran akan membantu kita memberikan kesadaran agar menjadikan semua masalah yang ada sebagai pelajaran berharga bagaimana mengelola dan menyelesaikannya di masa mendatang.

Sikap sabar juga dibutuhkan saat seseorang mencari ilmu. Lihat saja orang harus mulai sekolah dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Semuanya membutuhkan waktu yang panjang, dan tanpa adanya kesabaran, orang akan sulit mendapatkan ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan.

Betapa kesabaran sangat diperlukan saat seseorang mencari ilmu, apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Dan sikap sabar ini bukan hanya buat dirinya sendiri, tetapi juga buat keluarganya. Dengan kurang lebih 5 tahun waktu belajar, keluarganya memang harus juga merasakan beratnya kesabaran yang harus dilakukan.

Betapa banyak orang-orang yang “membeli gelar” sebagai syarat untuk kenaikan pangkat atau golongan. Berapa banyak pula orang melakukan berbagai kecurangan untuk mendapatkan gelar tertentu. Semuanya karena ketidaksabaran, bahwa inginnya mereka segera mendapatkan apa yang diinginkan tanpa kerja keras dan keringat.

Selain dalam berbagai kegiatan dan pekerjaan sehari-hari, sikap sabar juga dibutuhkan dalam beribadah. Coba kalau shalat tidak sabar, inginnya cepat-cepat selesai. Berdoa tidak sabar, inginnya segera sampai pada kata Amin.

Puasa kalau tidak sabar, inginnya cepat-cepat buka. Haji kalau tidak sabar, inginnya cepat-cepat. Thowaf keliling Ka’bah atau Sa’i yang harus dilakukan 7 kali dari Sofa menuju Marwah, inginnya segera sampai.

Dengan kesabaran dalam beribadah, maka ada kemantapan dalam ibadah yang membuat ibadah kita menjadi semakin khusyu. Kalau beribadah semakin khusyu, maka nilai-nilai dan hikmah yang terkandung dalam setiap ibadah tersebut akan semakin merasuk dalam diri dan jiwa kita.

Shalat kita, zakat kita, puasa kita, dan ibadah haji yang kita lakukan tidak sekedar sebagai sebuah kewajiban, tetapi karena memang kita membutuhkan ibadah tersebut sebagai sarana untuk memperkuat jiwa, mental, dan ruhani kita.

Nabi SAW memberikan apresiasi kepada umatnya dengan sabdanya:
“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin itu, karena semua urusan orang mukmin itu penuh dengan kebaikan. Hal ini tidak akan terjadi pada orang lain, kecuali orang mukmin saja. Jika mendapat kesenangan,  ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka hal itu pun menjadi kebaikan baginya”. (HR. Muslim)

Semoga Ramadhan tahun ini melatih kita menjadi pribadi yang lebih sabar. Aamin..
_____
::
Azharul Fuad Mahfudh
Selengkapnya
// // Tulis Komentar

Memperbanyak Doa


Kultum Hari ke-2

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Ada tiga (kelompok) orang yang sekali-kali tidak akan ditolak doanya oleh Allah SWT. Pertama, orang yang sedang berpuasa. Kedua, Kepala Negara yang adil. Dan Ketiga, orang yang teraniyaya."

Hadits ini menunjukkan keistimewaan berdoa pada bulan suci Ramadhan.

Kata DOA sering disebut dalam al-Qur`an dengan makna yang beraneka ragam. Doa, misalnya, bisa berarti istighatsah (memohon bantuan dan pertolongan), permintaan, percakapan, memanggil dan memuji.

Lebih tegas Nabi SAW menjelaskan, "Doa itu ruhnya ibadah, inti dari ibadah”.

Pada surat al-Baqarah ayat ke-186, setelah dijelaskan tentang kewajiban puasa dan merayakan Ramadhan dengan membaca al-Qur`an, Allah SWT mengundang hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya.

‎"Dan ketika ada hamba-Ku yang bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku akan mengabulkan permohonan hamba-Ku ketika ia bermohon kepada-Ku. Maka hendaklah ia berusaha mematuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapatkan petunjuk kebenaran".

Inilah janji Allah yang akan mengabulkan doa hamba-Nya yang benar-benar bermohon kepada-Nya. Disini ada syarat agar doa dikabulkan, yaitu:

1. Falyastajiibuu-lii, hendaknya berusaha untuk melaksanakan perintah Allah dan berusaha pula menjauhi larangan-Nya.

2. Walyu`minuu-bii, hendaklah yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa dengan cara dan dalam bentuk yang terbaik.

Karena belum tentu apa yang kita anggap baik, baik pula menurut Allah, dan sebaliknya, apa yang kita tidak sukai, belum tentu tidak baik untuk kita. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.‎

Syeikh Abdul Qadir Jailani pernah menulis, "‎Jangan salahkan Allah SWT bila doa tak dikabulkan, dan jangan menggerutu atau jemu.‎

Jika anda memohon tibanya cahaya siang pada saat kian melekatnya kegelapan malam, maka penantian anda akan lama, karena ketika itu kepekatan akan meningkat hingga terbitnya fajar.

Tetapi yakinlah bahwa fajar pasti menyingsing, baik anda kehendaki atau tidak. Jika anda menghendaki kembalinya malam pada saat itu, maka doa anda tidak akan dikabulkan, karena anda meminta sesuatu yang tak layak, dan anda akan dibiarkannya meratap, lunglai, jemu dan enggan.‎

Tetapi, anda salah bila jemu berdoa, karena "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" (QS. 94: 5-6)

Itu terjemahan ayatnya, tafsirannya adalah: "Sesaat setelah datangnya satu kesulitan pasti akan disusul oleh dua kemudahan".‎

Karena itu, tetaplah yakin bahwa "dalam genggaman tangan-Nya terdapat segala kebajikan".‎

Lebih lanjut, beliau berkata "Bila apa yang dimohonkan tidak diperoleh dengan segera, anda tak akan rugi. Karena, Nabi SAW pernah bersabda: ‎‎

Di akhirat nanti, ada seorang hamba yang terheran-heran melihat ganjaran pahalanya, yang dia sendiri merasa tidak pernah melakukannya sewaktu hidup di dunia. Saat itu ada suara yang mengatakan:‎

_"Itulah ganjaran atas doa-doamu yang belum Aku kabulkan sewaktu di dunia".

Andaisaja seseorang tahu bahwa ganjaran doanya lebih besar di akhirat, maka niscaya mereka akan berharap semua doa-doanya dikabulkan di akhirat saja.

✅ Tujuan puasa adalah agar kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa (la'allakum tattaquun).‎

✅ Tujuan adanya Ramadhan setiap tahun agar kita menjadi pribadi yang lebih bersyukur (la'allakum tasykuruun).

✅ Dan tujuan dari Doa adalah agar kita senantiasa mendapatkan petunjuk dan bimbingan dalam kebenaran (la'allahum yarsyuduun)‎

Jangan putus asa dalam berdoa, karena Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa/permohonan hamba-Nya selama hamba-Nya berdoa dengan sungguh-sungguh dan bukan dengan hati yang lalai.
_____
# Azharul Fuad Mahfudh
Selengkapnya
// // Tulis Komentar

Membaca al-Qur'an


Kultum Hari Ke-1

Salah satu amal ibadah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah membaca al-Qur`an. Nabi SAW memberikan rangsangan kepada mereka yang membaca al-Qur’an dengn pahala yang sangat luar biasa.

"Barang siapa membaca satu huruf dari al-Qur’an, maka baginya kebaikan, dan kebaikan itu sepuluh kali lipat. Yang aku maksud huruf itu bukan ALIF LAM MIM, tapi ALIF itu satu huruf, LAM itu satu huruf, dan MIM itu satu huruf".

Dengan kata lain, jika kita membaca “ALIF LAM MIM”, maka akan mendapatkan 30 kebaikan (3 huruf x 10 kebaikan).

Anda tahu berapa jumlah huruf pada surat al-Fatihah?

Surat al-Fatihah, jika dimulai "Alhamdulillaahi Robbil 'aalamiin", terdiri dari 119 huruf. Artinya, jika kita membacanya, maka akan mendapatkan ganjaran 1.190 kebaikan (119 x 10).

Anda tahu berapa jumlah huruf pada surat al-Baqarah?!

Membacanya mungkin lebih baik daripada menghitung jumlah hurufnya.

✅ Tidak ada suatu bacaan di dunia ini yang senantiasa dibaca setiap hari, jam, menit bahkan detik, selain al-Qur`an. Bukan saja dibaca oleh orang yang mengerti artinya, tapi dibaca juga oleh orang yang tidak mengerti artinya.

✅ Tidak ada suatu bacaan di dunia ini, selain al-Qur`an, yang diatur cara membacanya, mana yang harus dibaca tebal, tipis, mana yang harus dipanjangkan, mana yang harus di dengung*kan atau di *izhar*kan. Sehingga tercipta ilmu yang mengatur tata cara membacanya yang kita kenal sebagai *“ilmu Tajwid”.

✅ Tidak ada suatu bacaan di dunia ini, yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, enam ribu sekian ayat, lebih dari 77.400 kata, dan lebih dari 323.000 huruf, yang sejak diturunkannya 14 abad yang lalu sampai sekarang, bahkan hingga hari kiamat nanti, yang tidak berubah isinya walaupun hanya 1 huruf.

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya", tegas Allah SWT dalam QS. al-Hijr/15 ayat 9.

Sudah seberapa jauh kita, selaku muslim, membaca dan mengamalkan al-Qur`an dalam kehidupan kita sehari-hari?

Banyak diantara kita mengaku muslim, mengaku bahwa kitab sucinya adalah al-Qur`an, mengaku bahwa al-Qur`an adalah pedoman hidupnya, tapi justru banyak juga diantara kita yang menjadikan al-Qur`an hanya sekedar penghias lemari buku di rumahnya.

Begitu berat kita membaca al-Qur`an dan terjemahannya, tapi disisi lain begitu ringan kita membaca buku-buku novel atau majalah.

Mari kencangkan niat untuk senantiasa membaca al-Qur`an, terutama terutama bulan Ramadhan ini. Tanamkan moto dalam hati “Tidak ada hari tanpa membaca al-Qur’an”.

Buatlah target, misalnya Ramadhan ini saya harus khatam Al-Quran minimal 1x, atau mungkin khatam membaca terjemahannya, atau harus hapal surat ar-Rahman, al-Waqi'ah, al-Mulk, dan seterusnya. Sehingga ada peningkatan di bulan Ramadhan ini.

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk merayakan al-Qur`an (QS. 2: 185). Jika tidak diisi dengan membaca al-Qur`an dan menghafalnya, maka bulan Ramadhan kurang bermakna.

Apalagi di zaman sekarang, dimana al-Qur`an bisa kita bawa dalam genggaman HP kita. Rasanya tidak ada lagi alasan untuk tidak senantiasa membaca al-Qur`an.

"Di akhirat nanti al-Qur`an akan menjadi penolong bagi orang yang senantiasa membacanya semasa hidup di dunia", demikian sabda Rasul yang kita cintai.

Marhaban yaa Ramadhan
_____
::
#Azharul Fuad Mahfudh
Selengkapnya

Saturday, May 27, 2017

// // Tulis Komentar

10 Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah



Salah satu shalat yang berat dilaksanakan bagi sebagian besar kaum Muslim, khususnya laki-laki dewasa ini, adalah shalat Subuh secara berjamaah. Padahal, bila melihat kepada keutamaannya, justru shalat Subuh berjamaah memiliki banyak keutamaan yang luar biasa, berikut ini sebagian keutamaan yang terdapat di dalamnya:

1. Mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala.

Shalat Subuh berjamaah berpeluang mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala. Sebab, aktivitas yang dilaksanakan pada waktu pagi, terlebih aktivitas wajib dan dilaksanakan berjamaah seperti shalat Subuh, telah didoakan agar mendapatkan berkah. Yang mendoakannya adalah Rasulullah shallallahualaihiwasallam:

اللهمَّ باركْ لأمتي في بكورِها

Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah)

2. Mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.

Kondisi pada waktu subuh umumnya masih gelap, walau dengan penerangan listrik yang ada. Namun, dengan kondisi seperti itulah justru terdapat ganjaran yang besar dari Allah Ta’ala bagi manusia-manusia yang menuju masjid buat melaksanakan shalat dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat kelak, dalam hadits disebutkan:

عن بريدة الأسلمي رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم قال :بشِّرِ المشَّائين في الظُّلَم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة

Dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. Mendapatkan ganjaran shalat malam sepenuh waktunya.

Bisakah kita melakukan shalat malam atau tahajud sepenuh malam? Tentu sangat sulit dengan beragam aktivitas siang hari yang juga harus kita kerjakan. Namun demikian, pahala melakukan shalat malam sepenuh waktu malam ternyata bisa kita dapatkan dengan melakukan shalat Subuh secara berjamaah, dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebutkan:

مَن صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه

“Barang siapa yang melakukan shalat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan shalat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.”(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu)

4.. Berada dalam jaminan AllahTa’ala.

Artinya, orang yang melaksanakan shalat Subuh dengan sempurna, antara lain dengan melaksanakannya berjamaah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Azzawajalla., dengan begitu, siapa yang berada dalam perlindungan Allah, orang itu tidak boleh disakiti, orang yang berani mencelakakannya terancam dengan azab yang pedih, sebab dia telah melanggar perlindungan yang Allah berikan kepada orang tadi, dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَن صلَّى الصبح، فهو في ذمة الله، فلا يَطلُبَنَّكم الله من ذمَّته بشيء؛ فإن من يطلُبهُ من ذمته بشيء يدركه، ثم يَكُبه على وجهه في نار جهنم

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan pada wajahnya di dalam Neraka.” (HR. Muslim, dari Jundubibn Abdillah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu)

5. Dibebaskan dari sifat orang munafik.

Siapakah dari kita yang bisa menjamin bahwa dirinya telah suci dari penyakit kemunafikan? Bukankah dahulu para tokoh Salaf, yang notabene keimanannya lebih baik daripada kita, senantiasa takut dan khawatir terjangkiti sifat kemunafikan? Lantas, tidakkah kita seharusnya lebih layak untuk khawatir terhadap kondisi kita dewasa ini? Apalagi hidup dalam dunia dengan godaan yang demikian banyak menerpa.

Shalat Subuh secara berjamaah adalah salah satu upaya yang bisa kita tempuh agar bisa terhindar dari terjangkit penyakit kemunafikan itu, disebutkan dalam hadits:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما، لأتَوهما ولو حبوًا، ولقد هممتُ أن آمُرَ المؤذِّن فيُقيم، ثم آخُذَ شُعلاً من النار، فأحرِّقَ على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

“Tidak ada Shalat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak. Sungguh aku telah hendak memerintahkan kepada petugas azan untuk iqamat (Shalat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang belum tidak keluar melaksanakan Shalat (di masjid).” (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah)

6. Jamaah shalat Subuh dipersaksikan oleh malaikat.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يتعاقبون فيكم ملائكةٌ بالليل وملائكةٌ بالنهار، ويجتمعون ف ي صلاة الفجر وصلاة العصر، ثم يعرُجُ الذين باتوا فيكم، فيسألهم ربُّهم – وهو أعلم بهم: كيف تركتم عبادي؟ فيقولون: تركناهم وهم يصلُّون، وأتيناهم وهم يصلون.

“­Malaikat bergantian melihat kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (HR. Bukhari-Muslim)

7. Berpeluang mendapatkan pahala haji atau umrah bila berzikir hingga terbitnya matahari.

Bisa dibayangkan betapa besar ganjaran pahala yang didapatkan bila memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Dasar dari hal ini adalah keterangan dari Anasibn Malik Radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bersabda:

مَن صلى الغداة في جماعة، ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين، كانت له كأجر حجة وعمرة تامة، تامة، تامة

“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi)

8. Kesempatan untuk melaksanakan shalat sunah Subuh.

Kesempatan lain yang bisa didapatkan dengan mengupayakan shalat Subuh secara berjamaah adalah shalat sunah Subuh dua rakaat. Shalat sunat Subuh dua rakaat ini punya kelebihan tersendiri yang disebutkan dalam hadits.

ركعتا الفجر خيرٌ من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat (shalat sunah) Subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim dari Ummul MukmininAisyah Radhiallahu ‘anha)

9. Keselamatan dari siksa Neraka.

Keselamatan dari siksa Neraka berarti berita gembira tentang masuk Surga. Ganjaran ini tentunya berlaku bagi yang melaksanakan shalat Subuh secara sempurna (berjamaah). Mari perhatikan Hadits berikut:

عن عُمارة بن رويبة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (لن يلج النارَ أحدٌ صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها) رواه مسلم

Dari Umarah Radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan terbenamnya matahari (Ashar).”(HR. Muslim)

10. Kemenangan dengan melihat Allah Ta’ala pada hari Kiamat nanti.

Tentunya hal ini merupakan ganjaran terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya.

عن جرير بن عبد الله البجلي رضي الله عنه قال: كنا جلوسًا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ نظر إلى القمر ليلة البدر، فقال: (أمَا إنكم سترَون ربَّكم كما ترَون هذا القمر، لا تُضَامُّون في رؤيته، فإن استطعتم ألا تُغلبوا على صلاةٍ قبل طلوع الشمس وقبل غروبها، فافعلوا) رواه البخاري ومسلم

Dari Jarir Bin Abdullah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau melihat ke bulan di malam purnama itu, Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan melihat kepada Rabb kalian sebagaimana kalian melihat kepada bulan ini. Kalian tidak terhalangi melihatnya. Bila kalian mampu untuk tidak meninggalkan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah!” (HR. Bukhari-Muslim)

Semoga motivasi ini memicu kita untuk senantiasa bisa menjaga shalat Subuh secara berjamaah, bahkan menularkannya kepada saudara-saudara kita lainnya.
Selengkapnya

Monday, January 30, 2017

// // Tulis Komentar

Soal Terjemahan Awliyâ Sebagai ‘Teman Setia’, Ini Penjelasan Kemenag

Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMQ) Muchlis M Hanafi. (foto: LPMQ)

Pada beberapa edisi terbitan Terjemahan Al-Quran yang beredar saat ini, kata awliya pada QS Al Maidah: 51 diterjemahkan sebagai teman setia. Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag, Muchlis M Hanafi, menjelaskan bahwa terjemahan Al-Quran tersebut merujuk pada edisi revisi 2002 Terjemahan Al Quran Kementerian Agama yang telah mendapat tanda tashih dari LPMQ.

Hal ini ditegaskan Muchlis menanggapi beredarnya postingan di media sosial tentang terjemahan kata awliya pada QS Al-Maidah: 51 yang disebutkan telah berganti dari 'pemimpin' menjadi 'teman setia'. Postingan itu menyertakan foto halaman terjemah QS Al-Maidah: 51 dengan keterangan yang menyebutnya sebagai 'Al-Quran palsu'.
"Tidak benar kabar yang menyatakan bahwa telah terjadi pengeditan terjemahan Al-Quran belakangan ini. Tuduhan bahwa pengeditan dilakukan atas instruksi Kementerian Agama juga tidak berdasar," tegas Muchlis di Jakarta, Minggu (23/10).

Menurut Muchlis, kata awliya di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998 - 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata awliya diterjemahkan dengan pemimpin. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan teman setia.
"Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai dengan 'pelindung', dan pada QS. Al-Nisa/4: 89 diterjemahkan dengan 'teman-teman'," tambahnya.

Terjemahan Al-Quran Kemenag, lanjut Muchlis, pertama kali terbit pada tahun 1965. Pada perkembangannya, terjemahan ini telah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, yaitu pada tahun 1989-1990 dan 1998-2002. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama dan ahli di bidangnya, sementara Kementerian Agama bertindak sebagai fasilitator.

"Penyempurnaan dan perbaikan tersebut meliputi aspek bahasa, konsistensi pilihan kata atau kalimat untuk lafal atau ayat tertentu, substansi yang berkenaan dengan makna dan kandungan ayat, dan aspek transliterasi," terangnya.
Pada terjemahan Kementerian Agama edisi perdana (tahun 1965), kata awliya pada QS. Ali Imran/3: 28 dan QS. Al-Nisa/4: 144 tidak diterjemahkan. Terjemahan QS. Al-Nisa/4: 144, misalnya, berbunyi: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin".

"Pada kata wali diberi catatan kaki: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong. Catatan kaki untuk kata wali pada QS. Ali Imran/3: 28 berbunyi: wali jamaknya awliya, berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong," jelas Muchlis.

Terkait penyebutan 'Al-Quran palsu' pada informasi yang beredar di media sosial, Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini mengatakan, terjemahan Al-Quran bukanlah Al-Quran. Terjemahan adalah hasil pemahaman seorang penerjemah terhadap Al-Quran. Oleh karenanya, sebagian ulama berkeberatan dengan istilah "terjemahan Al-Quran". Mereka lebih senang menyebutnya dengan "terjemahan makna Al-Quran".


"Tentu tidak seluruh makna Al-Quran terangkut dalam karya terjemahan, sebab Al-Quran dikenal kaya kosa kata dan makna. Seringkali, ungkapan katanya singkat tapi maknanya padat. Oleh sebab itu, wajar terjadi perbedaan antara sebuah karya terjemahan dengan terjemahan lainnya," paparnya.

Terkait kata atau kalimat dalam Al-Quran yang menyedot perhatian masyarakat dan berpotensi menimbulkan perdebatan, Kemenag menyerahkan kepada para ulama Al-Quran untuk kembali membahas dan mendiskusikannya. Saat ini, sebuah tim yang terdiri dari para ulama Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman serta pakar bahasa Indonesia dari Badan Bahasa Kemendikbud, sedang bekerja menelaah terjemahan Al-Quran dari berbagai aspeknya.
Mereka itu, antara lain: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. Huzaimah T Yanggo, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Dr. KH. A. Malik Madani, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Dr. Muchlis M Hanafi, Prof. Dr. Rosehan Anwar, Dr. Abdul Ghofur Maemun, Dr. Amir Faesal Fath, Dr. Abbas Mansur Tamam, Dr. Umi Husnul Khotimah, Dr. Abdul Ghaffar Ruskhan, Dr. Dora Amalia, Dr. Sriyanto, dan lainnya.

"Teks Al-Quran, seperti kata Sayyidina Ali, hammalun dzu wujuh, mengandung aneka ragam penafsiran. Oleh karena itu, Kementerian Agama berharap umat Islam menghormati keragaman pemahaman keagamaan," urainya.

Menurut Muchlis, terbitan terjemah Al-Quran dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk memahami isi kandungan ayat suci. Namun, ia mengingatkan, dalam memahami ayat-ayat Al-Quran, hendaknya tidak hanya mengandalkan terjemahan, tetapi juga melalui penjelasan ulama dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya. (Sumber)
Selengkapnya