Thursday, December 15, 2016

// // Tulis Komentar

3 Golongan yang Pertama Masuk Neraka



Bismillaahhirrohmaanirrohiim..
Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokaatuuh..

Alhamdulillahirobbil ‘alamin, washolatu wasalmu’ala ashrofil ambya’i walmursalin, wa ‘ala alihi wasahbihi ajma'in. Ama ba’du…

Bapak Ibu jama’ah yang dimuliakan Alloh SWT, marilah kita panjatkan puji syukur atas segala nikmat yang diberikan Alloh SWT kepada kita, utamanya adalah nikmat islam, kesehatan, kekuatan dan kesempatan, sehingga pada malam hari ini kita masih diperkenankan berkumpul untuk mengkaji ayat-ayat Alloh SWT.

Tak lupa salam dan shalawat semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah melaksanakan ajarannya.

Pada kesempatan kali ini saya akan membacakan sebuah kultum dengan tema:

3 Golongan yang Pertama Masuk Neraka

Siapakah golongan manusia yang pertama masuk neraka? Apakah orang kafir? Apakah orang munafik? Apakah orang yang berbuat zina? Bapak Ibu yang dimuliakan Alloh SWT, ternyata bukan salah satu dari mereka. Ada 3 golongan yang pertama masuk neraka.

Imam Muslim berkata: Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Habib Al-Haritsi, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Al-Haritsi, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Yusuf, dari Sulaiman bin Yasaar, Dia (Sulaiman bin Yasaar) berkata, Ketika orang-orang telah meninggalkan Abu Hurairah, maka berkatalah Naatil bin Qais al Hizamy Asy-Syamiy (seorang penduduk palestina dan beliau adalah seorang tabiin).

"Wahai Syaikh, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang engkau telah dengar dari Rasulullah ShollAlloh SWTu'alaihi wassalam, Ya (Aku akan ceritakan - Jawab Abu Hurairah).  Aku telah mendengar Rasulullah ShollAlloh SWTu'alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Alloh SWT. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya.

Alloh SWT bertanya kepadanya: 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab: 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Alloh SWT berkata: 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Alloh SWT menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.'

Alloh SWT berkata: 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari' (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya).

Alloh SWT bertanya: 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab: 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Alloh SWT berkata: 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.'’

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, dan derajadnya Shohih.

Hadits di atas menjelaskan tentang ditolaknya suatu amal karena dilandasi dengan riya’. Syarat pokok diterima suatu amal shalih adalah ikhlas karena Alloh SWT semata, dan amal tersebut harus sesuai dengan contoh dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Inilah dua landasan amal yang diterima, ikhlas karena Alloh SWT dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam”.

Hadits di atas menjelaskan tentang adanya  tiga golongan manusia yang dimasukkan ke dalam neraka dan tidak mendapat penolong selain Alloh SWT. Mereka membawa amal yang besar, tetapi mereka melakukannya karena riya', ingin mendapatkan pujian dan sanjungan. Pelaku riya', kelak dihari pengadilan, wajahnya diseret secara tertelungkup sampai masuk ke dalam neraka.

Untuk itu, bapak ibu, marilah kita senantiasa berusaha untuk meluruskan niat dalam setiap amal ibadah. Jangan pernah kita beramal karena riya’ atau mengharapkan pujian dan sanjungan.

Demikianlah tausiah singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya. Dan semoga amal ibadah yang kita kerjakan tidak ada yang sia-sia. Aamiin..

Billahitaufik walhidayah.. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wa barokaatuuh..

0 comments:

Post a Comment