Sunday, January 29, 2017

// // Tulis Komentar

Belajar Kepada Umar bin Khattab


Siapa yang tidak kenal Umar, sahabat nabi yang terkenal sangat pemberani. Tak satupun orang Quraisy yang berani menghadang Umar tatkala dirinya menyampaikan kepada seluruh warga Makkah bahwa esok hari ia akan hijrah ke Madinah dan bergabung bersama barisan kaum Muslimin.

Keberanian Umar sungguh sangat luar biasa. Namun demikian Umar juga punya rasa takut sangat luar biasa. Hal itu terlihat tatkala ia melakukan sidak di malam hari. Ketika ia menjumpai sebuah rumah yang di dalamnya terdengar suara tangisan anak-anak, Umar pun segera masuk dan bertanya perihal apa yang menyebabkan si anak itu menangis.
Setelah mengerti bahwa ternyata seharian anak-anak itu tidak makan. Umar bergegas menuju baitul maal dan langsung memikul sekarung gandum itu di tengah malam gelap gulita. Ketika pengawalnya menawarkan diri untuk memikulkannya, dengan singkat Umar menjawab, “Apa kamu sanggup memikul dosa-dosa Umar di hari kiamat?”

Langkah Umar ini patut kita teladani. Bagaimana kita berupaya menjalankan segala hal yang merupakan kewajiban kita. Sebagai seorang khalifah, bukan Umar tidak punya menteri, pasukan, atau kendaraan untuk mengangkat gandum itu. Juga bukan berarti salah jika Umar meradang, lalu mengumpulkan seluruh menteri dan stafnya untuk diberi briefing mengenai tugas-tugas seperti itu.

Tapi Umar sadar betul bahwa dirinya menjadi khalifah adalah amanah dari Allah. Umar sangat takut kalau Allah murka kepadanya karena dia tak mau berbuat dan hanya suka marah kepada bawahan tanpa memberikan solusi konkrit atas kepemimpinannya. Keputusannya untuk bergerilya di malam hari untuk mengetahui situasi dan kondisi riil masyarakatnya juga merupakan satu bentuk tanggung jawab yang sangat luar biasa.

Bahkan karena rasa takutnya yang luar biasa kepada Allah SWT, Umar sempat menyatakan bahwa, “Apabila ada anak kambing terperosok karena jalanan yang rusak, Umarlah yang bertanggung jawab di dunia dan akhirat.”
Islam itu Identik Berbuat

Siapa yang mengaku beriman maka hendaklah ia menjadikan dirinya sebagai pribadi yang banyak berbuat bukan banyak bicara. Artinya, tidak banyak bicara untuk hal-hal yang tidak perlu apalagi berpotensi negatif (baca dosa). Jika kita membaca isi kandungan al-Quran dan Hadits, isinya adalah perintan beramal dan mengerjakan hal-hal yang baik. Bukan berisi perdebatan sia-sia atau hanya sekedar wacana.
Sebagai konsekwensi kemusliman kita, jika ditemukan hal-hal yang tidak baik dan kita mampu untuk menutupinya, maka tutupilah bukan terpancing untuk marah atau membeberkan kesalahan orang.

Seorang suami ketika melihat rumah belum bersih, tidak perlu memanggil istri atau anak untuk menyapunya apalagi ‘berceramah’ lebih dulu. Tetapi ambillah sapu dan bersihkanlah. Karena kebersihan rumah adalah tanggungjawab semua, terutama kepala keluarga.

Demikian pula seorang pemuda, tatkala melihat hal-hal yang tidak baik, jangan hanya bicara, selesaikan segera dengan cara-cara yang santun. Sebagaimana telah dicontohkan oleh nabi. Jangan sampai terjadi, selalu mengkritik orang tua, tapi pada saat yang sama tak ada karya yang diperbuat. Bicara seolah-olah seorang pemikir, ahli kebijakan, tapi perangai dan perilakunya tak mencerminkan pemuda yang beriman yang berkahlak. Pepatah mengatakan tong kosong nyaring bunyinya.
Artinya jika sebagai pemuda kita hanya bisa bicara, tunggu saja, saatnya nanti kita akan ditinggalkan.

Prinsipnya, sebagai apapun dan dalam situasi apapun kita, hendaknya selalu berusaha untuk mengutamakan berbuat yang terbaik. Hindari banyak bicara yang tidak perlu. Sebab kelak sebagus apapun perkataan tak akan mampu mengalahkan bagusnya perbuatan.
Allah SWT berfirman:

ﻭَﻗُﻞِ ﺍﻋْﻤَﻠُﻮﺍْ ﻓَﺴَﻴَﺮَﻯ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻤَﻠَﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻭَﺳَﺘُﺮَﺩُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺎﻟِﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓِ ﻓَﻴُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 9: 105).
Masalahnya, yang kita saksikan saat ini, kita semua lebih suka banyak bicara dari pada bekerja. Wallahu a’lam.

0 comments:

Post a Comment