Monday, May 29, 2017

// // Tulis Komentar

Keajaiban


Sekarang banyak ustadz yang mempopulerkan beberapa amal shaleh sesuai syari'at dengan tagline "Keajaiban Sedekah",   "Keajaiban Tahajud", "Keajaiban Sholat Berjama'ah", "Keajaiban Menghafal Qur'an" dan sebagainya.

Dan memang terbukti, orang yang rajin sedekah, hartanya justru makin bertambah.  Orang yang malam banyak begadang untuk tahajud (bukan karena mau nonton bola), justru badannya makin sehat.  Orang yang banyak sholat berjama'ah, justru waktunya berkah, berbagai acara justru secara ajaib bisa sinergi dan terselesaikan dalam waktu yang jauh lebih efisien dari sebelumnya.  Dan orang yang berusaha banyak menghafal Qur'an, justru otaknya lebih produktif, lebih mudah mencerna atau lebih cepat menghafal ilmu-ilmu yang lain.  Dan sepertinya ini hukum alam, karena selalu terjadi.

Namun bagaimanapun juga, amal-amal shaleh di atas tergolong kategori sunnah.  Padahal, jenis amal shaleh sesuai syariat itu, bahkan yang hukumnya wajib, masih sangat banyak.  Maka, kita rindu ada ustadz yang mempopulerkan amal shaleh yang sepertinya belum cukup populer, semisal:

"Keajaiban Menepati Janji",
"Keajaiban Berlaku Adil",
"Keajaiban Menuntut Ilmu",
"Keajaiban Menutup Aurat",
"Keajaiban Menjauhi Rizki yang Haram"
"Keajaiban Membela yang Terdzalimi",
"Keajaiban Memperjuangkan Syari'ah" ...
dan sebagainya.

Bagaimana kalau seorang muslim itu terbiasa menepati janji?  Apalagi para pejabat atau politisi, di mana saat pemilihan mereka biasa mengumbar janji.  Apakah mereka nanti lebih suka dijuluki PHP alias Pengumbar Harapan Palsu?  Dan silakan dibuktikan, bahwa Allah tidak akan mensia-siakan amal shaleh sedikitpun: setiap orang yang terbiasa menepati janji pasti Allah juga akan menepati janji-Nya kepadanya.  Doanya akan selalu terkabul, hajatnya akan selalu dipenuhi, istri dan anak-anaknya akan senantiasa menjadi cahaya mata baginya, dan rumahnya walaupun sederhana akan berasa surga.  Keajaiban akan mendekati dari segala penjuru !

Demikian juga dengan menjauhi rizki yang haram, entah yang bersumber dari riba, dari profesi yang tidak halal, atau yang didapat dengan korupsi.  Maka Allah akan mengganti rizki haram yang dijauhinya, dengan rizki yang lebih baik, yang halal, berkah dan berlimpah.  Allah cinta pada hamba yang tidak silau dengan gebyar harta bermilyar-milyar, kalau itu adalah sesuatu yang tidak diridhoi-Nya.  Hamba Allah itu sadar bahwa rizki itu semua adalah sekedar ujian, sehingga dia akan memilih yang halal saja, karena dia yakin, yang halal itu akan selamat untuk dirinya, keluarganya, tidak cuma di dunia tetapi sampai ke surga.  Baginya, cinta atau ridha Allah adalah di atas segala-galanya.

Apalagi memperjuangkan syari'ah.  Ini adalah puncak aktivitas yang mengundang keajaiban.  Memperjuangkan syari'ah adalah aktivitas dakwah yang diwariskan para Nabi.  Para wali yang datang ke Nusantara pun, hidupnya dipenuhi oleh keajaiban.  Maunah pada mereka mampu mengatasi sihir-sihir dari orang sakti negeri ini yang pernah menghalangi mereka. Allah mendatangkan keajaiban itu sejak mereka mencari bekal.  Semesta mendo'akan orang yang pergi mencari ilmu untuk bekal berdakwah.  Ikan-ikan di laut, burung-burung yang terbang di udara, dan para malaikat senantiasi mendoakan para pengemban dakwah.  Rizkinya secara ajaib bergulir bersama dakwah.  Gangguan orang-orang yang dengki, secara ajaib teratasi selaras dengan semakin teguhnya seorang pengemban dakwah pada keyakinan bahwa, "Allah yang memerintahkan dakwah ini, pasti tidak akan meninggalkan kita dalam kesulitan".  Itu juga rahasia kemenangan pasukan jihad kaum muslimin  di mana-mana.  Mereka menang bukan karena kesaktiannya, jumlahnya yang besar, atau persenjataannya yang lengkap.  Mereka dimenangkan Allah karena ketaqwaannya, sehingga Allah menggerakkan alam semesta menolong pasukan kaum muslimin, menanamkan ketakutan di hati musuh-musuhnya, membuyarkan kekompakan mereka, hingga akal sehatnya mengakui bahwa kaum muslimin tidak berperang untuk hawa nafsu mereka, melainkan justru untuk membebaskan musuhnya dari kegelapan kepada cahaya.

Demikianlah.  Mari kita cari berbagai keajaiban dalam segala pengamalan syari'at.  Semoga dengan demikian, cita-cita Islam Rahmatan Lil'alamin lebih cepat terwujud dalam rentang usia kita.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. 7:96)

Oleh: Fahmi Amhar

0 comments:

Post a Comment